Siaga 24 Jam: Polisi dalam Misi Kemanusiaan dan Tanggap Bencana
Ketika bencana alam atau krisis kemanusiaan melanda, peran aparat kepolisian sering kali melampaui tugas menjaga keamanan dan ketertiban. Mereka menjadi garda terdepan yang sigap dalam operasi penyelamatan dan bantuan. Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana institusi kepolisian bertransformasi menjadi polisi dalam misi kemanusiaan, menunjukkan dedikasi tanpa batas untuk melindungi dan menolong masyarakat di saat-saat paling rentan.
Pada hari Minggu, 12 Agustus 2024, pukul 03.15 WIB, terjadi banjir bandang yang melanda Desa Sukamaju, yang terletak di pinggir sungai Ciliwung. Dalam waktu kurang dari 30 menit setelah laporan pertama masuk, tim gabungan dari Kepolisian Sektor Sukamaju dan tim SAR setempat langsung bergerak menuju lokasi. Dipimpin oleh Kapolsek AKP Dwi Santoso, tim kepolisian tidak hanya fokus pada evakuasi warga yang terjebak, tetapi juga membantu mendirikan posko pengungsian sementara. Menurut kesaksian salah satu warga, Ibu Rohmah, 55 tahun, yang rumahnya terendam hingga atap, “Pak polisi itu yang pertama kali datang. Mereka bopong saya dan anak-anak saya ke tempat aman. Mereka tidak peduli dengan seragamnya yang kotor, yang penting kami selamat.” Kisah ini menjadi salah satu bukti nyata komitmen polisi dalam misi kemanusiaan.
Peran kepolisian dalam tanggap bencana juga terlihat saat terjadi gempa bumi di wilayah Lembang, Jawa Barat, pada tanggal 10 April 2025. Pukul 09.00 WIB, tim Brimob Polda Jabar yang kebetulan sedang berada di dekat lokasi langsung dikerahkan untuk membantu proses evakuasi. Dengan peralatan khusus yang dimiliki, mereka berhasil menembus puing-puing bangunan yang roboh untuk mencari korban yang tertimbun. Kepala Humas Polda Jabar, Kombes Pol. Bagus, menyatakan bahwa anggota Brimob telah dilatih secara khusus untuk operasi SAR (Search and Rescue), sehingga mereka memiliki kemampuan teknis yang mumpuni di luar tugas patroli biasa. Tanggap cepat ini menunjukkan bahwa polisi dalam misi kemanusiaan adalah bagian integral dari sistem penanggulangan bencana nasional.
Selain respons darurat, peran kepolisian juga berlanjut pada fase pascabencana. Pada 20 Januari 2025, setelah letusan Gunung Semeru, tim kepolisian dari Polres Lumajang tidak hanya bertugas mengamankan lokasi, tetapi juga mendistribusikan bantuan logistik dan mendirikan dapur umum. Polwan-polwan aktif membantu trauma healing bagi anak-anak korban bencana, memberikan mereka hiburan dan pendampingan psikologis. Kegiatan ini menunjukkan bahwa tugas kemanusiaan kepolisian tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyentuh aspek emosional dan mental masyarakat yang terdampak.
Kesiapsiagaan 24 jam ini bukanlah hal yang mudah. Anggota kepolisian harus siap meninggalkan keluarga mereka kapan pun ada panggilan tugas. Mereka menjalani pelatihan rutin dan simulasi bencana untuk memastikan bahwa mereka memiliki keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi situasi paling buruk. Dedikasi tanpa pamrih ini membuktikan bahwa profesi polisi lebih dari sekadar penegak hukum, melainkan juga pelayan masyarakat yang selalu siaga untuk membantu di setiap situasi, menjadikannya sebuah pilar penting dalam misi kemanusiaan.
